Wednesday, March 25, 2015

Makalah Aswaja

 

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Aswaja sesungguhnya identik dengan pernyataan nabi “Ma Ana ‘alaihi wa ashabihi’seperti yang dijelaskan oleh rasululloh SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi,ibnu Majah dan Abu daud bahwa:” bani Israil terpecah belah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golonngan ,kesemuanya masuk neraka kecuali satu golongan”. Kemudian para sahabat bertanya ;”siapakah mereka wahai rasululloh ?”,lalu rasululloh menjawab: Mereka itu adalah Maa ana ‘alaihi wa ashabi”yakni ereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga dilakukan oleh para sahabatku.
Dalam hadist tersebut Rasululloh SAW menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti apa yang aku lakukan dan para sahabtku. Pernyataan nabi ini tentu bukan sekedar kita maknai secara tekstual,tetapi karena hal tersebut berkaitan dengan pemahaman tentang ajaran islam maka “Ma Ana alaihi wa Ashabi”atau ahlu sunnah waljama’ah lebih kita artikan sebagai”Manhaj Au Thariqoh Fi Fahmin Nushus Wa Tafsiriha”(metode atau cara memahami nash dan bagaimana mentafsirkannya).
Jadi bukanlah sebuah gerakan yang baru muncul diakhir abad ke-3 dan ke-4 Hijriah yang dikaitkan dengan lahirnya konsep aqidah aswaja yang dirumuskan kembali oleh imam Abu Hasan Al-asy’ari(wafat : 935M) dan imam Abu Manshur Al-maturidi (wafat : 944M)pada saat munculnya berbagai golongan yang pemahamannya dibidang aqidah sudah tidak mengikuti Manhaj atau tariqoh yang dilakukan oleh para sahabat,dan bahkan banyak  dipengaruhi oleh kepentingan-kepentigan politik dan kekuasaan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Ahlu Sunnah Waljama’ah ?
2.      Apa saja karakteristik Ahli Sunnah Waljama’ah?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Ahli Sunnah Waljama’ah.
2.      Untuk mengetahui karakteristk Ahli Sunnah Waljama’ah.





















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ahlu Sunnah Waljama’ah
Definisi Ahlu Sunnah Waljama’ah ada dua bagian yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus . Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik ( fiqih) dan hakikat ( Tasawwuf dan Akhlaq ). Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad / keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah
Pada hakikatnya definisi Aswaja yang secara khusus bukan lain adalah merupakan juz dari definisi yang secara umum, karena pengertian Asya’iroh dan Ahlussunnah adalah golongan yang komitmen berpegang teguh pada ajaran Rasul dan para sahabat dalam hal aqidah. namun penamaan golongan Asya’iroh dengan nama Ahli sunnah Wa Al Jamaah hanyalah skedar memberikan nama juz dengan menggunakan namanya kulli.
B.Karakteristik Ahli Sunah Waljamaah IV
1.                  Menggabungkan Antara Keyakinan Dunia dan Zuhud terhadapnya
Ahli sunnah waljama’ah tidak mengingkari orang yang mencari kekayaan dunia dan berusaha mendapatkan rizki. Mereka bahkan melihat bahwa setiap orang seharusnya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dan keluarganya,tidak memerlukan bantuan orang lain dan enghilngkn perasaan tamak (berharap) terhadap apa yang dimilikki orang lain. Namun dengan catatan,bahwa dunia tidak menjadi konsentrasi terbesarnya atau sasaran ilmunya. Juga tidak boleh mencari harta dengan cara yang tidak halal atau dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban.
Mereka juga tidak mencela orang yang memilih hidup sederhna dan puas dengan sedikit kenikmatan dunia. Karena mereka melihat bahwa zuhud itu sesungguhnya adalah zuhudnya hati. Yaitu,meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat. Adapun ada orang yang kaya raya tetapi ia meletakan kekayaannya,hanya di tangannya bukan di dalam hatinya,ia gunakan harta itu untuk menolong saudara-saudaranya, bersedekah kepada fakir miskin,dan membantu korban bencana. Maka hal itu merupakan karunia alloh yang di berikan kepada siapa saja yang ia kehendaki. Hal itu sama seperti tindakan Ash-shidiq,Ustman,Ali,Abdurrahman bin auf,dan orang-orang kaya lainnya dari kalangan muhajirin dan anshar. Sama seperti abdullah bin mubarok, ia adalah salah satu orang terkaya pada zamannya.
Pada saat yang sama ia adalah orang nomor satu dari orang-orang yang paling zuhud. Karena allah memberinya kekayaan yang berlimpah kemudian ia habiskan di dalam kebenaran. Sebaliknya, kita  juga menemukan dikalangan ahli sunnah orang-orang yang fakir, menahan diri dan rela menerima bagian yang sedikit. Jadi, yang ini tidak mengingkari yang itu dan yang itu tidak mengingkari yang ini. Berbeda dengan ahli dunia yang hidup untuk dunia,bekerja keras untuk kepentingan dunia semata. Hingga dunia menjadi konsentrasi terbesar dan sasaran ilmunya. Akibatnya mereka tidak bermusuhan kecuali kepentingan dunia. Dan tidak berteman kecuali untuk kepentingan dunia. Anda akan menemukan mereka bekerja keras terus menerus, siang dan malam,demi mendapatkan kekeyaan dari mana saja, dan dengan cara apa saja untuk mendapatkan kekayaan tanpa memperdulikan kehalalan dan keharamannya. Juga berbeda dengan orang-orang sufi yang menganggur atau golongan-golongan lain yang hidup dengan bergantung pada orang lain. Mereka tidak melihat zuhud selain dengan meninggalkan dunia secara total dan menganggap bahwa, berusaha mencari rezeki adalah bertentangan dengan zuhud. Oleh karena itu allah tidak menyebut perniagaan dalam rangka  ada yang memerendahkan martabatnya kecuali mana kala perniagaan itu menjadi penghalang ketaatan kepada-Nya.
2.           Saling membantu dan saling melengkapi
Mereka tau bahwa agama Allah adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisah-pisah. Dan mereka juga sadar bahwa tidak seorang pun,betapa pun tinggi ilmu dan kekuatannya mampu melaksanakan agama ini dengan keseluruhan. Oleh karena itu mereka berusaha menegakan agama ini,menyebarluaskannya kepada seluruh mahluk,dan mengamalkannya secara keseluruhan. Mereka sadar bahwa hal itu tidak bisa di lakukan tanpa kerja sama,bahu-membahu,dan meminta bantuan kepada orang lain. Sehingga ada kelompok yang melaksanakn jihad di jalan Allah. Ada yang melaksanakan tugas amar ma’ruf nahyi munkar,ada yang menyebarluaskan ilmu,memasyarakatkannya dan mendidik masyarakat dengan ilmu tersebut,ada yang respon terhadap orang-orang kafir,ahli bid’ah dan penurut hawa nafsu. Meskipun demikian, satu sama lain tidak boleh mengingkari sepanjang masing-masing bekerja menurut kapasitas dan kemampuannya. Karena masing-masing berada di jalan yang benar sesuai dengan petunjuk dan assunah.
3.        Pendidikan konprehensip dan berimbang
Mereka mendidik para pengikutnya dengan ilmu dan amal. Mereka memulainya dari yang terpenting lalu yang penting dan tidak mengalahkan salah satunya (ilmu dan amal). Mereka tidak mendidiknya dengan ilmu saja tanpa amal,atau amal saja tanpa ilmu. Merea juga tidak mendidiknya dengan fanatisme dan sentimen golongan, ataupun dengan sikap mudah cair dan larut. Merekapun tidak mendidiknya dengan sikap angkuh dan merendahkan orang lain.
4.        Memperbarui umat dalam urusan agamanya
Ahli sunnah waljama’ah adalah orang-orang yang menghidupkan agama, menghilangkan rasa keasingannya, dan memperbaharui ajaran-ajaran yang punah.
Dan jika mengamti para mujaddid (Pembaharu) di dalam sejarah islam maka kita akan menemukan bahwa mereka berasal dari kalangan ahli sunnah waljama’ah. Seperti : Umar bin Abdul Aziz,imam empat,Syaikhul islam taimiah, Syaikhul islam Muhammad bin Abdul Wahab, serta ahli ilmu dan iman lainnya.
5.                     Gemar mendirikan amar ma’ruf nahi munkar
Mereka melakukan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan tingkatan yang ada: dengan tangan,lalu dengan lisan,kemudian dengan hati, menurut kemmpuan dan kemaslhatan. Untuk menempuh tujuan itu mereka menempuh jalan yang paling dekat yakni, dengan cara yang halus,ringan dan mudah. Mereka melakukan pendekatan dengan cara menasehati mahluk agar kembali kepada allah. Mereka bermaksud memberikan manfaat kepada mahluk, mengantarkannya kepada setiap kebaikan, dan melindunginya dari segala keburukan. Tujuannya tidak lain adalah menjaga kebaikan umat ini dan berusaha menjauhkan mereka dari azab.
6.      Gemar berdakwah
Mereka mengajak orang memeluk islam melalui hikmah (kebijaksanaan) , nasihat yang baik dan dialog dengan cara yang paling baik. Mereka melakukan hal itu dengan berbagai cara yang di anjurkan dan di perbollehkan, sehingga manusia bisa mengenal tuhannya dan mengabdi kepadanya dengan  sebenar-benarnya.
7.      Suri Tauladan yang baik
Ahlu SunnahWaljama’ah adalah  suri tauladan yang baik. Di antara mereka terdapat orang-orang yang sangat kuat iamannya. Para syuhada dan para mujahid  ( pejuang). Di anatramereka juga ada orang - orang yang menjadi symbol petunjuk dan pelita- di tengah gelapnya malam. Mereka memiliki kelebihan-kelebihan yang layak disebarluaskan dan keutamaan-keutamaan yang patut ditampilkan. Dari sanalah manusia bisa menemukan suri tauladan yang baik di dalam mereka meliputi segala bidang.

8.      firqah najiah (golongan yang selamat)
Ahli sunnah Waljama’ah adalah golongan yang selamat dari bid’ah serta selamat dari adzab allah pada hari kiamat.
9.      Tetap eksis hingga hari kiamat
Ahli Sunnah Waljama’ah akan tetap eksis hingga hari kiamat. Mereka akan selalu konsisten dalam mempertahankan kebenaran dan agama yang mereka anut. Merekalah orang-orang yang akan menang dan berkuasa. Karena Allah telah menjadikan hujjah mereka yang menonjol dan kalimat slogan mereka sebagai yang tertinggi.
10.    Dihormati oleh ummat
Allah ta’ala menjadikan Ahli Sunnah Waljama’ah sebagai golongan yang bisa diterima di muka bumi. Umat mempercayai mereka, mendengar mereka dan mengikuti ucapan-ucapan mereka karena mereka adalah orang-orang yang paling dekat kepada kebenaran dan paling berhati-hati dalam mencari kebenaran.













BAB III
PENUTUP
A.                 Simpulan
Definisi Ahlussunnah wa Al jamaah ada dua bagian yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus .Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik ( fiqih) dan hakikat ( Tasawwuf dan Akhlaq ). Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad / keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah. Adapun ciri-ciri atau karakteristik bagian IV yaitu: -   Menggabungkan antara keyakinan dunia dan zuhud terhadapnya
-          Saling membantu dan saling melengkapi
-          Pendidikan konperehensip dan berimbang
-          Memperbarui umat dalam urusan agamnya
-          Gemar mendirikan amar ma’ruf nahi munkar
-          Gemar berdakwah
-          Suri tauladan yang baik
-          Firqah najiah (golongan yang selamat)
-          Tetap eksis hingga akhir kiamat
-          Dihormati oleh umat.






Daftar pustaka
Syaikh Muhammad Ibrahim Al-Hamd, Fadhilatusy. 2007. Konsep, Ciri Khas dan Kekhususan Penganutnya. Surabaya. Tim Pustaka Elba.

No comments:

Post a Comment