BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Permasalahan
Dalam melaksanakan
tugasnya, seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan
ratusan peserta didiknya, dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya.
Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik, yang
penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan
kepribadian peserta didiknya.Dari segi kecepatan belajar, ada peserta didik
yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran, namun sebaliknya ada juga
yang sangat lambat.
Dari segi
kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta
didiknya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki
kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru
mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan
dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang
negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan
menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang
rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya.
Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang
keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa
peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari
latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui
secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia
berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling
mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku
dan pribadinya secara optimal.
B.
RUMUSAN MASALAH
a.
Bagaimanakah keragaman dalam kecakapan?
b.
Bagaimanakah keragaman dalam kepribadian?
c.
Factor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi timbulnya keragaman?
d.
Bagaimanakah proses keragaman kecakapan dalam diri individu?
C.
TUJUAN
a.
Untuk mengetahui keragaman dalam kecakapan
b.
Untuk mengetahui keragaman dalam kepribadian
c.
Untuk mengethui factor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman
d.
Untuk mengetahui proses keragaman kecakapan dalam diri individu
D.
MANFAAT
a.
Untuk mengetahui keragaman dalam kecakapan
b.
Untuk mengetahui keragaman dalam kepribadian
c.
Untuk mengethui factor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman
d.
Untuk mengetahui proses keragaman kecakapan dalam diri individu
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Keragaman
Individu dalam Kecakapan
Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian
yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential
ability).
Kecakapan nyata (actual ability) yaitu
kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang
dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai
mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir
perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes
formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen,
maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement).Sedangkan
kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri
individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter).Kecakapan potensial
dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensia
tau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes).
C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi
sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara
cepat dan efektif.
Pada
awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal),
yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori
inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori
“Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan
umum yang diberi kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi
kode “s” (specific factor).
Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori
“Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari
kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2)
kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir
(reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan
bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word
fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual
speed).
Sementara itu, J.P.
Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar
atau “faces of intellect”, yaitu:
a. Operasi Mental (Proses Befikir)
1) Cognition (menyimpan informasi yang lama
dan menemukan informasi yang baru).
2) Memory Retention (ingatan yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari).
3) Memory Recording (ingatan yang segera).
4) Divergent Production (berfikir
melebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif).
5) Convergent Production (berfikir memusat=
hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif).
6) Evaluation (mengambil keputusan tentang
apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai).
b. Content (Isi yang Dipikirkan)
1) Visual (bentuk konkret atau gambaran).
2) Auditory.
3) Word Meaning (semantic).
4) Symbolic (informasi dalam bentuk lambang,
kata-kata atau angka dan notasi musik).
5) Behavioral (interaksi non verbal yang
diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).
c. Product (Hasil Berfikir)
1) Unit (item tunggal informasi).
2) Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat
yang sama).
3) Relasi (keterkaitan antar informasi).
4) Sistem (kompleksitas bagian saling
berhubungan).
5) Transformasi (perubahan, modifikasi, atau
redefinisi informasi).
6) Implikasi (informasi yang merupakan saran dari
informasi item lain).
Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated
Learning), Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasiciri-ciri
keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan, kreativitas
dan komitmen terhadap tugas, yaitu:
a. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan
pikirannya);
b. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap
ilmu pengetahuan;
c. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir
logis dan kritis
d. Mampu belajar/bekerja secara mandiri;
e. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus
asa);
f. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap
kegiatan atau perbuatannya
g. Cermat atau teliti dalam mengamati;
h. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam
pemecahan masalah;
i. Mempunyai minat luas;
j. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;
k. Belajar dengan dan cepat;
l. Mampu mengemukakan dan mempertahankan
pendapat;
m. Mampu berkonsentrasi;
n. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari
luar.
B. Keragaman Individu dalam Kepribadian
Para ahli tampaknya
masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian, tergantung
sudut pandang masing-masing.Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan
oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey,
2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang
berbeda-beda.Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan
satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap.Menurut pendapat
dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu
sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik
dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari
pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964)
mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik
yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi
kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta
memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan
(norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa
kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu
dengan individu lainnya.Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur
psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi
kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga
menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi
dengan lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu,
terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya :
teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav
Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori
Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi
Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson,
teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya.
Sementara itu, Abin
Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di
dalamnya mencakup :
a. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam
mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau
pendapat.
b. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang,
atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang
dari lingkungan.
c. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat
positif, negatif atau ambivalen
d. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan
reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya
tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
e. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan
untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau
menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang
dihadapi.
f. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang
berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka
atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian
tersendiri, mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai
dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Dalam hal
ini,Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri
kepribadian yang sehat atau tidak sehat, sebagai berikut :
|
KEPRIBADIAN YANG SEHAT
|
KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT
|
|
1. Mampu menilai diri sendiri secara realistik
2. Mampu menilai situasi secara realistik
3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara
realistik
4. Menerima tanggung jawab
5. Kemandirian
6. Dapat mengontrol emosi
7. Berorientasi tujuan
8. Berorientasi keluar (ekstrovert)
9. Penerimaan sosial
10. Memiliki filsafat hidup
11. Berbahagia
|
1. Mudah marah
2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
4. Bersikap kejam
5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari
perilaku menyimpang
6. Kebiasaan berbohong
7. Hiperaktif
8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9. Senang mengkritik/ mencemooh
10. Sulit tidur
11. Kurang rasa tanggung jawab
12. Sering mengalami pusingkepala
13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati
ajaran agama
14. Pesimis
15. Kurang bergairah
|
Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa
ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas, dia
dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang
dimiliki para peserta didiknya. Oleh karena itu, seyogyanya guru dapat
memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran, dengan
memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang
dimiliki peserta didiknya.Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri
sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan
kepribadiannya masing-masing.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya
Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian
Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian
dipengaruhi oleh bebagai faktor. Kendati demikian, para ahli sepakat bahwa pada
dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor
utama, yaitu :
a. Herediter;
pembawaan sejak lahir atau berdasarkanketurunan yang bersifat kodrati,
seperti : konstitusi dan struktur fisik, kecakapan potensial (bakat dan
kecerdasan).
Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung
pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu).
Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga
putih, Gregor Mendel mengemukakan pandangannya, bahwa : (1) tiap-tiap sifat
(traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan; (2) tiap-tiap pasangan
faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya, dan satu dari pada
pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar; dan (3) pada waktu proses
pembentukan sel-sel kelamin, pasangan faktor keturunan itu memisah, dan
tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan
itu. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan
memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu.
Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan
memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari
orang tua kepada anaknya :
1) Asas Reproduksi
Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari
masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya.
Sifat-sifat atau ciri-ciri perilakuyang diturunkan orang tua kepada anaknya
hanyalah bersifat reproduksi, yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah
ada pada hasil perpaduan benih saja, dan bukan didasarkan pada perilaku orang
tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan
lingkungannya.
2) Asas Variasi
Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada
anak-anaknya akan bervariasi, baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Hal
ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen
berbeda-beda, baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Oleh karena itu,
akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari
orang yang bersaudara, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama, sehingga
mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku
ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku
ibunya atau sebaliknya.
3) Asas Regresi Filial
Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua
orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gayatarik-menarik dalam
perpaduan pembawaan ayah dan ibunya, sehingga akan didapati sebagian kecil dari
sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Sedangkan
perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini
sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing
sifat keturunan tersebut.
4) Asas Jenis Menyilang
Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh
masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis.
Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku
ayahnya, sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada
ibunya.
5) Asas konformitas
Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak
akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang
diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya.Misalnya, orang Eropa akan
menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa
lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia.
b. Environment; lingkungan tempat di mana individu
itu berada dan berinteraksi, baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar.
Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang
menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan
itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya.Manusia tidak bisa
melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu, karena
lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri
individu, dapat kita ikuti pada uraian berikut :
1) Lingkungan membuat individu sebagai makhluk
sosial
Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya
meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh
dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan
sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.
Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia
pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya
tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam
arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.
Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia
yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia
10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi
serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan
bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu
dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya
itu akan berlangsung sangat lambat sekali.
2) Lingkungan membuat wajah budaya bagi
individu
Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan
sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi
dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup
adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap
segala apa yang tersedia di alam sekitarnya.
Lingkungan memiliki peranan bagi individu,
sebagai :
a) Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup
individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh : air dapat
dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.
b) Tantangan bagi individu dan individu berusaha
untuk dapat menundukkannya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong
manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.
c) Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang
beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk
berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya,
apabila dianggap sesuai dengan dirinya.Contoh : seorang anak yang senantiasa
bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin dari
temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak
yang rajin.
d) Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik
secaraalloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis
artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya.Contoh : dalam
keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya
menjadi sejuk. Dalam hal ini, individu melakukan manipulation yaitu
mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga
sesuai dengan dirinya.Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri
yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya.Contoh :
seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau
obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi
gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.
c. Maturity;
kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang
dijalani individu. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya
perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu,
seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, otot, syaraf dan
kelenjar.Kematangan seperti ini disebut kematangan
biologis. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis, seperti :
kemampuan berfikir, emosi, sosial, moral, dan kepribadian, religius. Kematangan
aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu.
Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat
formulasi sebagai berikut :
P= Pribadi atau perilaku
f = fungsi
H= Herediter (pembawaan)
E=Environment
(lingkungan, termasuk belajar)
M=Maturity(tingkatkematangan)
BAB III
PRAKTIK KE LAPANGAN
A. Analisis
Teoritis
Belakangan ini banyak orang menggugat tentang
kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah
yang dapat mengantarkan kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul,
bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya
musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia.
Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ?Dalam teori
kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat
ternyata tidak terakomodasikan.Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha
mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan
aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993),
mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai
tampak dalam tabel di bawah ini :
|
INTELIGENSI
|
KEMAMPUAN INTI
|
|
1. Logical – Mathematical
|
Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola
logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional.
|
|
2. Linguistic
|
Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan
keragaman fungsi-fungsi bahasa.
|
|
3. Musical
|
Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan
ritme. Nada dan bentuk-bentuk ekspresi musik.
|
|
4. Spatial
|
Kemampuan mempersepsi dunia ruang-visual secara
akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut.
|
|
5. Bodily Kinesthetic
|
Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan
mengenai objek-objek secara terampil.
|
|
6. Interpersonal
|
Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana
hati, temperamen, dan motivasi orang lain.
|
|
7. Intrapersonal
|
Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan
kelemahan serta inteligensi sendiri.
|
Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi
dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan
tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada
dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu: kecepatan (waktu
yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan)
dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti)
dalam bertindak.
Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi
tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur
perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat)
seseorang.Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan
di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun
sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur
inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur
aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence).Selain
itu, ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes
Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven.
Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat
diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent
Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.
Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ
seseorang adalah :
Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan
dikaitkan dengan usia seseorang.
|
IQ
|
KATEGORI
|
PERSENTASE
|
|
140
|
Jenius (Genius)
|
0.25 %
|
|
130-139
|
Sangat Unggul (VerySuperior)
|
0.75 %
|
|
120-129
|
Unggul (Superior)
|
6 %
|
|
110-119
|
Diatas rata-rata (High Average)
|
13 %
|
|
90-109
|
Rata-rata (Average)
|
60 %
|
|
80 – 89
|
Dibawah Rata-Rata (Low Average)
|
13 %
|
|
70 – 79
|
Bodoh (Dull)
|
6 %
|
|
50 – 69
|
Debil (Moron)
|
0.75 %
|
|
25 – 49
|
Imbecil
|
0.20 %
|
|
<>
|
Idiot
|
0.05 %
|
Selain
menggunakan instrumen standar, seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi
dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya, melalui pengamatan yang
sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta
didiknya, yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan
kecepatan, ketepatan, dan kemudahan peserta didik dalam dalam
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat
ulangan atau ujian, sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta
didik yang tergolong cepat (upper group), rata-rata (midle group) dan
lambat (lower group) dalam belajarnya.
Untuk mengukur bakat seseorang, dapat menggunakan
beberapa instrumen standar, diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test),
SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability), FACT (Flanagan
Aptitude Calassification Test). Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1)
pemahaman kata; (2) kefasihan mengungkapkan kata; (3) pemahaman bilangan;
(4) tilikan ruangan; (5) daya ingat; (6) kecepatan pengamatan; (7) berfikir
logis; dan (8) kecakapan gerak.
Pengukuran tersebut, baik menggunakan instrumen
standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat
memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar
memperkirakan (prediksi) saja, untuk kepentingan pengembangan diri.Begitu juga
kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan
tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang.
B.
Analisis
Praktis
Observasi ke lapangan dilaksanakan pada
hari senin, tanggal 20 Mei 2013.Tempat di Mis. Setiamulya, Desa Sindangsari,
Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh
siswa-siswi kelas VI MI di sekolah tersebut. Kami melaksanakan observasi dengan
memberikan angket kepada guru-guru mengenai inteligensi siswa-siswi dalam
proses pembelajaran dan terjun langsung ke kelas untuk memantau keseharian
siswa-siswi di kelas IV tersebut. Berikut merupakan contoh angket yang kami
berikan kepada guru-guru yang membimbing kelas IV di sekolah tersebut.
ANGKET
KECAKAPAN NYATA
(INTELIGENSI)
SAAT PROSES
PEMBELAJARAN
MIS. SETIAMULYA
KELAS IV
a.
Kecakapan
nyata (inteligensi)
|
No
|
Nama Siswa
|
Kecepatan
|
Bukti
|
Ketepatan
|
Bukti
|
Kemudahan
|
Bukti
|
|
|
1
|
Aas Asariah
|
80
|
Sudah pandai merespon
pertanyaan dan membaca
|
70
|
Kurang tepat dalam
menjawab pertanyaan,
|
80
|
Sudah bisa
mengerjakan soal degan baik
|
|
|
2
|
Ade Rian
|
65
|
Belum bisa menulis
dengan benar
|
70
|
Belum bisa merespon
pertanyaan dengan baik
|
70
|
Masih kesulitan dalam
menulis
|
|
|
3
|
Ade Susan
|
80
|
Sudah bisa
berkomunikasi dengan baik
|
85
|
Sudah bisa menjawab pertanyaan
|
80
|
Sudah bisa menjawab
pertanyaan dengan baik
|
|
|
4
|
Ade Taufik
|
90
|
Cekatan
|
85
|
Sudah bisa
mengerjakan soal dengan tepat
|
90
|
Mudah paham ketika
melaksanakan pembelajaran
|
|
|
5
|
Adi
|
70
|
Belum bisa menulis
dengan rapi
|
75
|
Sudah bisa menjawab
pertanyaan
|
70
|
Masih kesulitan dalam
beberapa pelajaran
|
|
|
6
|
Aep Saeful A
|
80
|
Sudah pandai membaca
|
75
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
80
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
7
|
Aghist Auliya R
|
85
|
Sudah pandai membaca
|
80
|
Sudah bisa mejawab
pertanyaan
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
8
|
Anisa
|
95
|
Pandai membaca dan
menulis
|
95
|
Sudah bisa menjawab
pertanyaan dengan benar
|
95
|
Mudah paham ketika
proses pembelajaran
|
|
|
9
|
Ari Riyansah
|
85
|
Sudah bisa membaca
dan menulis
|
90
|
Sudah bisa menjawab
pertanyaan dengan benar
|
80
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
10
|
Elis Lismawati
|
70
|
Lancar membaca, belum
bisa menulis dengan rapi
|
60
|
Belum bisa merespon
pertanyaan
|
60
|
Belum bisa memahami
pelajaran dengan baik
|
|
|
11
|
Gina Cahyani
|
80
|
Sudah bisa membaca
dan menulis dengan rapi
|
75
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
70
|
Masih kesulitan dalam
mengerjakan soal
|
|
|
12
|
Gita Nurasih
|
95
|
Sudah pandai membaca
dan menulis dengan rapi
|
95
|
Sudah bisa menjawab
pertanyaan dengan baik
|
90
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
13
|
Herni Destriani
|
70
|
Belum bisa menulis
dengan rapi
|
75
|
Belun bisa merespon
pertanyaan dengan baik
|
70
|
Belum bisa mengikuti
pembelajaran dengan baik
|
|
|
14
|
Nining Nurainah
|
90
|
Sudah mahir membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
85
|
Sudah bisa
mengerjakan soal dengan baik
|
|
|
15
|
Nurul Fauziah
|
90
|
Sudah pandai membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan dengan benar
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pembelajaran dengan baik
|
|
|
16
|
Puput Putriyani
|
85
|
Sudah pandai membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa merespon pertanyaan
|
75
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
17
|
Rika Auliya
|
85
|
Sudah bisa membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
18
|
Rika Herdiana
|
80
|
Sudah bisa membaca
dan menulis
|
80
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
75
|
Belum bisa
mengungkapkan ketidaktahuaanya
|
|
|
|
19
|
Siti Sarah
|
85
|
Sudah bisa membaca
dan menulis dengan rapi
|
80
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
75
|
Belum bisa
mengungkapkan ketidakpahamannya
|
|
|
20
|
Sri Rizki K
|
95
|
Sudah pandai membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan dengan benar
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
21
|
Tina
|
85
|
Sudah bisa membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa meerespon
pertanyaan
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
22
|
Wawan
|
60
|
Masih belum bisa membaca
dan menulis dengan baik
|
60
|
Masih kesulitan dalam
mengungkapkan gagasan
|
60
|
Masih kesulitan dalam
proses pembelajaran
|
|
|
23
|
Yuli S
|
95
|
Sudah pandai membaca
dan menulis
|
90
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan baik
|
|
|
24
|
Wina Sulastri
|
85
|
Sudah bisa membaca
dan menulis
|
85
|
Sudah bisa merespon
pertanyaan
|
85
|
Sudah bisa mengikuti
pelajaran dengan bbaik
|
|
|
25
|
Mahendra
|
70
|
Bisa membaca, tetapi belum bisa menulis
|
60
|
Belum bisa merespon
pertanyaan
|
60
|
Masih kesulitan dalam
mengikuti proses pembelajaran
|
|
Berdasarkan hasil observasi tersebut : jumlah
siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Setiamulya kelas IV. Menurut faktor inteligensi
dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
Inteligensi tinggi :
5 orang
Inteligensi sedang :
14 orang
Inteligensi rendah :
6 orang
Untuk kelompok inteligensi yang tinggi,
seorang guru akan terus memantau perkembangan peserta didiknya agar terus
mempertahankan prestasi dan kemampuannya serta meningkatkan kemampuan itu
supaya lebih baik lagi.
Untuk kelompok inteligensi sedang, seorang
guru akan terus membimbing dan memperhatikan peserta didik untuk meningkatkan
kemampuannya dalam proses pembelajaran.
Untuk kelompok inteligensi rendah, seorang
guru akan menyelenggarakan les tambahan untuk belajar membaca dan menulis.Dan
membimbing anak-anak agar terus semangat belajar.
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
1. Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata
(actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability).
2. Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang
diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera
didemonstrasikan dan diuji sekarang.
3. Kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung
dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter).
4. Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai
sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan
diri terhadap lingkungannya
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam
kecakapan dan kepribadian yaitu herediter, environment dan maturity.
B. REKOMENDASI
Observasi ini didukung olehguru-guru MI Setiamulya terutama wali kelas
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun.
2003. Psikologi Pendidikan.Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Calvin S. Hall & Gardner
Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik
(Klinis) : Jakarta : Kanisius
Chaplin, J.P. (terj. Kartini
Kartono).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja
Grafindo Persada.
Depdiknas, 2004. Dasar
Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan
Tenaga Akdemik Dirjen Dikti
2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program
Percepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.
E.
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan
Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
2004. Implementasi Kurikulum
2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
Gendler, Margaret
E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New
York : McMillan Publishing.
H.M. Arifin.
2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden
Terayon Press.
Hurlock, Elizabeth B.
1980. Developmental Phsychology. New Yuork : McGraw-Hill Book Company
Moh.Surya.1997. Psikologi
Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung.
Muhibbin Syah.
2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.
Nana Syaodih
Sukmadinata.2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung :
P.T. Remaja Rosdakarya.
National Board for Professional
Teaching Standards.2002 . Five Core Propositions.NBPTS Home Page.<http://www.nbpts.org/ standards/fivecore.html>.(Accessed, 31 Oct
2002).
Prayitno, dkk. 2004. Pedoman
Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.
----------, dkk. 2004. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan
Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling
Individual; Teori danPraktek. Bandung : Alfabeta
Sudarwan Danim.
2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga
Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Sugiharto.(2005. Pendekatan
dalam Konseling(Makalah). Jakarta : PPPG
Sumadi Suryabrata.
1984. Psikologi Kepribadian.Jakarta : Rajawali.
Sunaryo
Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkembangan. Bandung :
Lab. PPB-UPI Bandung
Suyanto dan Djihad Hisyam.
2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki
Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.
Syamsu Yusuf
LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Artikel-pendidikan.blogspot.com/2008/01/keragaman-individu-dalam-kecakapan-dan
html